Forex ini adalah singkatan dari Foreign Exchange (Pertukarang mata uang)....
Pada dasarnya bermain forex adalah memprediksi suatu pair mata uang bahwa nanti nilainya akan naik atau turun. Dan keyakinan dari prediksi itu kita wujudkan dalam membuka posisi trading (open position).
Dalam forex hanya ada 2 jenis open posisi. Yaitu
1. BELI/BUY/LONG : Memprediksikan nilai pair akan NAIK
2. JUAL/SELL/SHORT : Memprediksikan nilai pair akan TURUN
Banyak pasar perdagangan di seluruh dunia yang terletak di lokasi dan tetap beroperasi dalam jam perdagangan yang ketat, sering terbatas hanya lima atau enam jam sehari di antara Senin dan Jumat. Namun pasar Forex buka 24 jam sehari, hanya hari Sabtu dan Minggu market tutup.
Ini berarti bahwa pedagang memiliki kemampuan mengatur jam trading mereka sendiri. Jika Anda lebih suka bekerja di pagi hari karena memiliki pekerjaan tertentu, tidak menjadi soal, Anda bisa trade forex pada malam harinya. Atau sebaliknya. Anda dapat trade forex pada siang hari ketika Anda telah memiliki kesibukan pekerjaan dimalam hari.
Rabu, 27 Mei 2015
Sabtu, 14 Desember 2013
Ulang Tahun
TAK ADA YANG BERUBAH........
Aku tak kehilangan kata tuk menuliskan Puisi...
Tentang mozaik rindu yang senantiasa bersama guyuran hujan...
pada suara yang diam memandu rasaku.....
pada kenangan tempatku berkaca.....
dan kata maafmu yang tulus..... kuresapi segala makna.... dan kumaknai segala rasa.......
disini hari ini ku masih setia menuliskan puisi untuk Cinta....
seperti kemarin.... diam masihmemelukmu dalam doa-doaku........
Wahai sunyi tolong rebahkan raga terkasih ku diatas
alunanmu...
Wahai kelam tolong bisikan doa sblm tidur di pendengaran
hatinya...
Wahai malam pintaku tolong buaikan jiwanya dengan
untaian zikir agar detak jantungnya menyanyikan lagu
cinta untuku..., Mozaik cinta kami....
(Slamat Ulang TAhun Ya Sayang........ Semoga Allah senantiasa memeluk mimpi-mimpimu..... menyentuh lembut hatimu.... dan mengabulkan semua doa-doamu........)
Aku tak kehilangan kata tuk menuliskan Puisi...
Tentang mozaik rindu yang senantiasa bersama guyuran hujan...
pada suara yang diam memandu rasaku.....
pada kenangan tempatku berkaca.....
dan kata maafmu yang tulus..... kuresapi segala makna.... dan kumaknai segala rasa.......
disini hari ini ku masih setia menuliskan puisi untuk Cinta....
seperti kemarin.... diam masihmemelukmu dalam doa-doaku........
Wahai sunyi tolong rebahkan raga terkasih ku diatas
alunanmu...
Wahai kelam tolong bisikan doa sblm tidur di pendengaran
hatinya...
Wahai malam pintaku tolong buaikan jiwanya dengan
untaian zikir agar detak jantungnya menyanyikan lagu
cinta untuku..., Mozaik cinta kami....
(Slamat Ulang TAhun Ya Sayang........ Semoga Allah senantiasa memeluk mimpi-mimpimu..... menyentuh lembut hatimu.... dan mengabulkan semua doa-doamu........)
Minggu, 23 Desember 2012
Tidurlah Cinta
Wahai sunyi tolong rebahkan raga terkasih ku diatas
alunanmu...
Wahai kelam tolong bisikan doa sblm tidur di pendengaran
hatinya...
Wahai malam pintaku tolong buaikan jiwanya dengan
untaian zikir agar detak jantungnya menyanyikan lagu
cinta untuku..., cinta kami untuk Sang Penjaga Malam...
.
(Maipa Diapati, Dalam Lintasan Waktu)
Jumat, 14 Desember 2012
Masih Di Hari Ulang Tahunmu
Makassar, Negri Biru...
Aku tak pernah lupa hari ini...
Gengaman tanganmu yang hangat masih terasa...
Meski tahun telah berganti dan hidup barjalan tak sesederhana yang kita pikirkan...
Yang datang dan pergi masih tak sepertimu...
Meski kau kumiliki hanya dalam batas kenangan bahwa kita pernah bersama...
Seperti tahun lalu...
Akan selalu kusempatkan hadirkanmu dalam setiap waktu yang mengantarmu dalam ingatanku...
Rasaku tak pernah berubah...
Kenangan tentangmu takkan pernah pupus ditelan jaman...
Hari ini...
Hari yang istimewamu...
Ku ucapkan Selamat Ulang Tahun sayang...
Semoga Allah kan selalu menjagamu dan memudahkan segala Urusanmu dan memurahkan rejekimu...
Sebagai sebuah potongan pragmen... Ingatanku adalah mozaik bagi kesempurnaan rasaku...
Hari ini aku masih memelukmu dalam angan...
Biarkan saja begitu selamanya...
Ihlaskan untukku....
14-12-2012
Aku tak pernah lupa hari ini...
Gengaman tanganmu yang hangat masih terasa...
Meski tahun telah berganti dan hidup barjalan tak sesederhana yang kita pikirkan...
Yang datang dan pergi masih tak sepertimu...
Meski kau kumiliki hanya dalam batas kenangan bahwa kita pernah bersama...
Seperti tahun lalu...
Akan selalu kusempatkan hadirkanmu dalam setiap waktu yang mengantarmu dalam ingatanku...
Rasaku tak pernah berubah...
Kenangan tentangmu takkan pernah pupus ditelan jaman...
Hari ini...
Hari yang istimewamu...
Ku ucapkan Selamat Ulang Tahun sayang...
Semoga Allah kan selalu menjagamu dan memudahkan segala Urusanmu dan memurahkan rejekimu...
Sebagai sebuah potongan pragmen... Ingatanku adalah mozaik bagi kesempurnaan rasaku...
Hari ini aku masih memelukmu dalam angan...
Biarkan saja begitu selamanya...
Ihlaskan untukku....
14-12-2012
Minggu, 03 Juni 2012
Kekuasaan
episode ini tentang berkaca pada k
ekuasaan ,
dimana kesadaran bermuara pada kemampuan untuk memahami keterbatasan
pikiran....
jalan persimpangan memperteguh keyakinan...
dimana kebenaran menjadi agama baru...
Sebab kita tahu bahwa kebenaran tanpa defenisi hanya akan membuat kita mual dan
berhasrat muntah, dan kebanyakan kita sendiri kadang pura-pura lupa jika perut belum
berisi...
sebab dilain hari kita menemukan diri dalam serpihan cermin yang retak, jika perut
telah menjadi kenyang berlembar hati menjadi rapuh, dan kemanusian hanya menjadi
awan yang mengambang di permainan gelombang semudera...
Secepat hempasan kukuh karang terberai layaknya serpihan ombak dan kembali di
peluk samudera....,
sementara dalam penafsiran semu, aku adalah gelombang, dengan buih yang
menguap...
sesekali menjadi ombak, menampar hatimu tanpa lelah...
dan hati lunglai letih dalam hempas yang tak usai hingga kikis habis segala bentuk tanpa
kita pernah bisa merasakan bagaimana arti kemenangan dan eforia...
sebab kemenangan tak ubahnya gemuruh debur ombak riuh, dimana dogma dan
doktrin menjadi kabur kehilangan warna...
lalu hilang bentuk dalam sejarah yang dimanipulasi untuk kepentingan abadi para
penguasa.
Atas nama demokrasi tak sedikit dari kita akhirnya menghalalkan merampok dan
mencuri pundi-pundi negara.
Dan oposisi pun akhirnya berebut posisi dengan telanjang,
tanpa rasa malu...

ekuasaan ,
dimana kesadaran bermuara pada kemampuan untuk memahami keterbatasan
pikiran....
jalan persimpangan memperteguh keyakinan...
dimana kebenaran menjadi agama baru...
Sebab kita tahu bahwa kebenaran tanpa defenisi hanya akan membuat kita mual dan
berhasrat muntah, dan kebanyakan kita sendiri kadang pura-pura lupa jika perut belum
berisi...
sebab dilain hari kita menemukan diri dalam serpihan cermin yang retak, jika perut
telah menjadi kenyang berlembar hati menjadi rapuh, dan kemanusian hanya menjadi
awan yang mengambang di permainan gelombang semudera...
Secepat hempasan kukuh karang terberai layaknya serpihan ombak dan kembali di
peluk samudera....,
sementara dalam penafsiran semu, aku adalah gelombang, dengan buih yang
menguap...
sesekali menjadi ombak, menampar hatimu tanpa lelah...
dan hati lunglai letih dalam hempas yang tak usai hingga kikis habis segala bentuk tanpa
kita pernah bisa merasakan bagaimana arti kemenangan dan eforia...
sebab kemenangan tak ubahnya gemuruh debur ombak riuh, dimana dogma dan
doktrin menjadi kabur kehilangan warna...
lalu hilang bentuk dalam sejarah yang dimanipulasi untuk kepentingan abadi para
penguasa.
Atas nama demokrasi tak sedikit dari kita akhirnya menghalalkan merampok dan
mencuri pundi-pundi negara.
Dan oposisi pun akhirnya berebut posisi dengan telanjang,
tanpa rasa malu...
Tentang BELATUNG dan Aku
dalam tubuh ringkih penuh jejeran tulang atau dalam bungkusan daging dengan lemak yang padat, sesungguhnya kita tak pernah berbeda... Selalu saja sama..
menyebut diri ombak, karang, pelangi atau senja....
menjadi jenuh dan menemukan begitu banyak jejak aku dalam diri ,
sesungguhnya kita tak pernah menjadi apa-apa...
kemarilah sejenak saja...
menemani risauku tentang do'a belatung yang tak sempat kita pikirkan
Betapa lancang diri kita...
memanipulasi cinta dan kasih sayang menjadi nafsu
menyebut diri ombak, karang, pelangi atau senja....
menjadi jenuh dan menemukan begitu banyak jejak aku dalam diri ,
sesungguhnya kita tak pernah menjadi apa-apa...
kemarilah sejenak saja...
menemani risauku tentang do'a belatung yang tak sempat kita pikirkan
Betapa lancang diri kita...
memanipulasi cinta dan kasih sayang menjadi nafsu
Minggu, 20 Mei 2012
Kristenisasi Di Indonesia Dan Rekayasa Snouck Hurgronye
Kristenisasi di Indonesia
dan Rekayasa Snouck Hurgronje
Oleh Hartono Ahmad Jaiz*
Kemenangan partai agama (Kristen) pada pemilihan di Belanda tahun 1901 merubah wajah politik di sana. Partai Liberal --yang telah menguasai politik selama 50 tahun-- kehilangan kekuasaannya; sedangkan golongan agama semakin kuat dan membawa pemerintahan ke prisnsip Kristen. Pidato tahunan raja pada bulan September 1901 --yang menggambarkan jiwa Kristen --menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggung jawab moral kepada rakyat Hindia Belanda (Nusantara), yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas, sejalan dengan politik hutang budi yang dicanangkan. [1]
Snouck Horgronje Contoh Nyata
Snouck Hurgrunje bermaksud menukar Islam dengan kebudayaan Eropa, sehingga upaya kepentingan politik dan agama (Kristen) menjadi gampang.
“To bring about a cultural unity string enough to void the difference of religious denomination from its political and social significance.” (Menjadikan ikatan kesatuan budaya dapat melenyapkan perbedaan agama dari kepentingan politik dan kemasyarakatan). [2]
Taktik Penjajah Belanda
Munculnya para orientalis Belanda itu perlu disimak pula latar belakang politik penjajah Belanda yang menguasai Indonesia selama tiga setengah abad. Dr Aqib Suminto menggambarkan strategi penjajah Belanda, di antaranya diungkapkan sebagai berikut:
Usaha Belanda untuk mengkonsolidasi kekuatannya mendapat perlawanan dari raja-raja Islam, dan di tingkat desa, dari para guru serta ulama Islam. Meskipun Belanda berhasil mengontrol sebagian besar daerah Nusantara yang ditaklukkannya, namun Islam tetap melebarkan sayapnya; bahkan sejak abad ke-19 Islam mendapatkan daya dorong, berkat semakin meningkatnya hubungan dengan Timur Tengah.[3]
Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam ini, sering disebut dengan istilah Islam Politiek, dimana Prof Snouck Hurgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum itu kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai masalah Islam.
Berkat pengalamannya di Timur Tengah dan Aceh, Snouck Hurgronje, sarjana sastra Smith yang mempunyai andil sangat besar dalam penyelesaian perang Aceh ini kemudian berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia. [4]
Siapa Snouck Hurgronje Itu?
Christian Snouck Hurgronje lahir pada tahun 1857. Ayahnya seorang pendeta. Dia belajar teologi dari guru Taurat, Abraham Kuenen,
kemudian mulai belajar bahasa Arab dan Islam pada M J de Goeje. Atas bimbingan de Goeje, dia berhasil menyusun disertasi Het Mekkaansche Feast (Berhaji ke Makkah) pada tahun 1880. Ketika dilangsungkan konferensi para orientalis di Leiden pada tahun 1883, hadir pula Amin Al- Madani Al-Halwani yang membawa sekumpulan manuskrip berharga dan menjualnya kepada penerbit E.J. Brill. Beberapa bagian manuskrip dibeli oleh Universitas Leiden. Pada konferensi itu, Snouck Hurgronje berkenalan dengan Amin Al-Madani. Setelah Amin Al-Madani menulis kesan-kesannya tentang konferensi itu dalam surat kabar Al-Burhan terbitan Kairo, Snouck segera menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab (Belanda?, pen).
Setelah konferensi itu, Amin bin Hasan Al-Halwani Al-Madani berangkat ke India tempat menerbitkan buku al-Qurb fi mahabbat al- Arab (Pendekatan dalam mencintai orang-orang Arab) oleh Abdur Rahim Al-Iraqi pada bulan Shafar 1302H (1884M). Dia menyebut dirinya sebagai guru di Raudhatul Muthahharah. Setahun setelah konferensi orientalis itu, Snouck dengan ditemani Konsul Belanda, Kruyt, berangkat ke Jeddah. Pertanyaan yang muncul ialah apakah ada hubungan antara perkenalan Snouck Hurgronje dan Amin Al-Madani dengan keberangkatan Snouck ke Jeddah, kemudian pernyataan masuk Islamnya dan masuknya ke Makkah al-Mukarromah.
Sebahagian besar surat pribadinya masih tertutup bagi para peneliti berdasarkan wasiat puterinya sampai tahun 1894. Jadi, jawaban pertanyaan tadi masih sangat tergantung pada orang lain. Namun demikian, mungkin sekali Amin Al-Madani sudah melapangkan jalan bagi Snouck Hurgronje untuk memasuki Makkah Al-Mukarramah. Data sejarah menyebutkan bahwa Snouck menyatakan Islam di hadapan orang banyak dan saksi-saksi secara tipu muslihat. Dia terus memainkan peran di tengah kaum Muslimin Makkah, kemudian di Indonesia selama hidupnya. Menurut responden yang dapat dipercaya dari Indonesia disebutkan bahwa Snouck menipu seorang camat dengan pengakuan keislamannya dan mengawini puteri camat itu. Dari isterinya dia memperoleh beberapa orang anak dan yang sulung bekerja pada satu jabatan penting dalam kepolisian di Indonesia.
Kami yakin akan kebenaran informasi itu ketika bertemu seorang cucu Snouck secara pribadi dengan ditemani Sjord van Koningsveld di Leiden. Tidak ada keraguan bahwa Snouck pandai memainkan peran di hadapan isteri dan anak-anaknya, seperti kepandaiannya memainkan peran di tengah kebanyakan umat Islam yang menganugerahkan kepadanya kecintaan lalu dikhianatinya sendiri. [5]
Snouck menetap selama enam setengah bulan di Makkah dengan memakai nama Abdul Ghaffar. Dia mendatangi majelis-majelis ulama dan kiyai-kiyai pemimpin pengajian hingga dia berhasil menjalin hubungan erat dengan banyak ulama Makkah dan sejumlah ulama dari Jawa, Sumatera, dan Aceh yang berdatangan ke Makkah, khususnya kepada Syekh Makkah dan muftinya, Syekhnya para ulama, Ahmad bin Zaini Dahlan . Tampaknya, Syekh yang baik membolehkan kepadanya atau membekalinya surat rekomendasi, agar rencana Snouck menjadi lebih sempurna dalam membuka jalan di Indonesia, khususnya di daerah Aceh yang memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Dia juga menjalin hubungan baik dengan Habib Abdur Rahman al-Zahir yang tampaknya berambisi agar dijadikan Sultan oleh Belanda untuk daerah Aceh. Gagasannya tentang cara terbaik untuk menghancurkan pemberontakan kaum muslimin di Aceh disampaikan kepada Konsul Belanda, Kruyt, dan Snouck Hurgronje. Untuk mencapai tujuan itu, dia memberatkan pemerintah Belanda, tetapi akhirnya dia merasa puas dengan gaji besar yang diperolehnya dari Konsulat Belanda di Jeddah seumur hidupnya. Jadi, tidak aneh jika kaum muslimin di Aceh mengecap Habib Abdur Rahman al- Zahir dan Snouck Hurgronje sebagai pengkhianat hingga sekarang ini. [6]
Hubungan Snouck dengan Missi Kristen dan Penyamarannya
Adapun hubungan Snouck dengan misi kristenisasi, kembali pada asal usul lingkungan kelahirannya sendiri pada masa dia hidup dan belajar, serta fakultas tempat dia menimba ilmu. Dia adalah putra penganut gereja Protestan Calvinisme yang terkenal akan ajaran-ajaran dan kekerasan teologinya, kemudian belajar teologi pada fakultas yang didirikan khusus untuk menyiapkan para pendeta. Dia hidup pada masa Eropa menguasai sebahagian besar penduduk dunia, termasuk di dalamnya kaum Muslimin. Dia belajar bahasa Arab pada de Goeje, ilmuwan ulung yang memiliki sikap ilmiah obyektif dan mentalitas mulia, serta kesungguhan luar biasa dalam penelitian dan penerbitannya. Kenyataan itu menonjol pada muridnya, Van Fluton (w. 1902), dan keilmiahannya pada teks-teks yang diterbitkannya Miftah al-’Ulum oleh Al-Khawarizmi serta Al-Mahasin wa Al-Adhdan yang dinisbahkan kepada Al-Jahiz dan lain-lain. [7]
Sikap Snouck terhadap Islam, Ulama, dan Muslimin
Fakta sejarah menunjukkan kedustaan Snaouck Hurgronje dan rencana penyamarannya itu bukan tidak mungkin menunjukkan bahwa masuk Islamnya di Jeddah serta hubungannya dengan orang-orang Aceh di Mekkah al-Mukarramah pun termasuk perbuatan pura-puranya. Namun, dusta tersebut telah memberinya jalan memasuki daerah Aceh, tempat dia akan mengumpulkan informasi-informasi yang dapat memberi saham dalam mewujudkan pemecahan masalah atas daerah Aceh bagi Belanda. Untuk itu Snouck Hurgronje menerima pekerjaan di Batavia.
Dalam perjalanan mata-matanya itu, orang-orang Aceh, termasuk beberapa ulama, menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Mereka
memberi sambutan hangat dan menerima kedatangannya. Laporan-laporannya (kepada pemerintah Belanda, pen) berisi kebencian, dendam, pemutarbalikan, dan kebohongan, khususnya terhadap para ulama yang dianggap sebagai kendala penghambat tunduknya daerah Aceh kepada pemerintah Belanda. Para ulama merupakan motor penggerak spitritual masyarakat dalam membela daerah itu sehingga di dalam laporan-laporan spionasenya, para ulama itu berpuluh-puluh kali dijuluki gerombolan ulama . Selain itu, diapun menyampaikan usul kepada pemerintah kolonial untuk menempuh cara politik kekerasan dan penumpasan terhadap para ulama dengan menyatakan:
“Sesungguhnya musuh utama dan yang giat adalah para ulama dan para petualang yang menyusun gerombolan-gerombolan yang kuat.
Sekalipun jumlah mereka sedikit dan tumbuh di antara lapisan-lapisan masyarakat yang bermacam-macam, mereka mendapat tambahan dari sebagian penduduk dan pemimpin-pemimpinnya. Tidak mungkin akan diperoleh manfaat dalam perundingan dengan partai musuh ini karena akidah dan kepentingan pribadi mereka mengharuskan mereka untuk tidak tunduk, kecuali dengan penggunaan kekerasan terhadap mereka.
Sesungguhnya persyaratan yang paling mendasar untuk mengembalikan peraturan di daerah Aceh haruslah mengkaunter para ulama dengan kekerasan sehingga ‘ketakutan’ menjadi faktor yang menghalangi orang-orang Aceh untuk bergabung dengan pemimpin-pemimpin gerombolan agar terhindar dari bahaya. Menurut pendapat saya, mesti dipersiapkan rencana mata-mata yang efektif dan terorganisasi untuk memata-matai Tuanku Kuta Karang (pemimpin ulama pada tahun 1892) dan gerombolannya. Pasti akan ada hasil awalnya. Biarpun saya tidak mampu menjelaskan seluruh rinciannya, namun saya berani berkata bahwa pekerjaan mata-mata itu adalah suatu kemungkinan.” [8]
Demikianlah faktanya. Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin . Karena itu Jendral tadi mendapat julukan “pedang Snouck yang ampuh” karena keberhasilannya dalam memerangi umat Islam. Di samping itu Snouck Hurgronya juga banyak membantu dalam pembinaan kader missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di seluruh wilayah jajahannya.
Terdapat fakta lain pula bahwa seorang tokoh missionaris kondang dan sangat disegani di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Kraemer adalah murid Snouck Hurgronje, dari tahun 1921 hingga tahun 1935. Hubungan di antara guru dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje wafat pada tahun 1936. [9]
Dr Van Koningsveled berkata: “Tidak terputus surat menyurat antara Snouck Hurgronje dan muridnya, Hendrik Kraemer, misisionaris terkenal dan berpengaruh dalam lingkungan aktivis kristenisasi dari tahun 1921 sampai dengan 1935. Menurut penjelasan Boland, buku Hendrik Kraemer, Misi Kristen di Dunia Non Kristen [10] mengungkapkan dengan jelas bahwa orang-orang Kristen mempunyai rencana untuk mengkristenkan dunia, khususnya Indonesia. Mereka bertujuan menundukkan dunia Islam. [11] Bahkan, Kraemer membandingkan Islam dengan Nazi. [12]
Snouck dan Kristenisasi di Indonesia
Meskipun data dan fakta sejarah telah jelas seperti tersebut di atas, namun di Indonesia sendiri pernah terjadi semacam kegoncangan di kalangan umat Islam yang banyak memperhatikan seluk beluk nasib ummat. Pada tahun 1985 Prof Dr HM Rasjidi yang dikenal sangat vokal terhadap pemikiran Barat walaupun beliau alumni Barat, dan vokal pula dalam hal kristenisasi, namun justru beliau jelas-jelas mengemukakan bahwa Dr Christian Snouck Hurgronje itu teman umat Islam Indonesa. Beliau menyalahkan muslimin pada umumnya yang menganggap Snouck itu musuh, karena menurut beliau, Muslimin pada umumnya tidak membaca karya-karya orientalisme. Justru Snouck menurut HM Rasjidi, pernah berpolemik dengan anggota parlemen Belanda, karena Snouck tak membolehkan orang Islam di Indonesia untuk dikristenkan.
Berikut ini pendapat HM Rasjidi yang dituangkan H Subagijo AN dalam biografi HM Rasjidi: "Tiap kali Rasjidi mengamati kepribadian Massignon, tiap kali pula dia teringat tokoh di negaranya sendiri, Dr. Crhistian Snouck Hurgronje, seorang orientalis besar pada zamannya. Oleh kebanyakan orang di Indonesia, Snouck Hurgronje dianggap sebagai kaki tangan kaum imperalis; alat kaum penjajah; sehingga segala ulah dan sikapnya dinilai sangat menguntungkan kolonialis Belanda semata. Namun bagi Rasjidi figur Snouck Hurgronje justeru merupakan teman ummat Islam Indonesia. Penilaian keliru terhadap Snouck itu, menurut Rasjidi disebabkan karena pada umumnya orang belum pernah membaca buku-buku karya orientalis tadi secara lengkap dan teliti.
Sebagai cendekiawan yang sudah membaca seluruh karya Snouck Hurgronje secara tuntas, Rasjidi sampai pada kesimpulan, bahwa doktor (Snouck Hurgronje) tersebut pada hakekatnya adalah teman ummat Islam Indonesia. Dr. Snouck, di kalangan orang Belanda sendiri dikenal sebagai seorang yang anti-zending dan anti-missi. Snouck pernah berpolemik dengan anggota parlemen Belanda yang menaruh simpati pada gereja. Ujar sang anggota parleman, “Kami ini tidak mengkristenkan orang Islam. Yang kami kristenkan adalah orang-orang Jawa yang tidak bersembahyang, Yang tidak membaca Al-Qur’an, yang hanya bisa mengucapkan syahadat pada waktu akan nikah saja”.
Ucapan itu ditanggapi Snouck dengan tegas jelas: “Kalau Anda sudah tahu bahwa orang Jawa mengaku Islam, itu sudah cukup. Bahwa mereka tidak mendirikan shalat, tidak paham bahasa Arab, itu sama sekali tidak mengurangi sifat keislamannya. Anda sendiri yang mengaku ummat kristen, apakah semua juga pernah membaca Injil? Dan juga pergi ke Gereja dengan teratur? Dan bila di dalam Injil disebutkan: Bila diminta bajunya, hendaknya Anda kasihkan jubahnya, apakah Anda pernah memberi jubah yang diminta orang lain?”. Demikian antara lain polemik antara Dr. Snouck Hurgronje dengan anggota parlemen Belanda yang membawakan suara kaum gerejani. [13]
(Komentar kami, penulis artikel ini):
Apa yang dikemukakan Dr HM Rasjidi itu tidak bisa dijadikan landasan bahwa Snouck Hurgronje tidak menginginkan Umat Islam Indonesia jadi Kristen. Justru maksud dan tujuannya hampir sama dengan missionaris, hanya saja cara mengkristenkannya itu bukan lewat kristenisasi model missionaris, namun lewat budaya, agar umat Islam tergiring tanpa terasa.
Kalau model missionaris, menurut pandangan Snouck, justru akan terjadi reaksi dari umat Islam, hingga apa yang dituju yaitu pengkristenan itu sendiri tidak akan tercapai. Cara yang ditempuh Snouck itu bisa dibuktikan dengan apa yang ditulis oleh para peneliti sebagai berikut.
Deliar Noer menulis:
Asosiasi sebagai kebijaksanaan yang diperjuangkan ilmuwan Belanda Christian Snouck Hurgronje, mendapat tempat hanya pada beberapa gelintir orang Belanda dan Indonesia saja terutama mereka yang berafiliasi dengan perkumpulan Nederlandsch Indische Vrijzinningen Bond (Kesatuan Kaum Liberal Hindia Belanda). [14]
Lanjut Deliar, yang dipersoalkan oleh Snouck Hurgronje ialah bagaimana menghadapi soal Islam. Hal ini mudah difahami karena Islam telah memperlihatkan semangat perjuangannya di Indonesia dalam bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap penetrasi Belanda di berbagai wilayah negeri ini. Snouck Hurgronje mengamati bahwa walaupun Islam di Indonesia banyak tertutup oleh lapisan kepercayaan lain seperti kepercayaan animisme dan Hindu, orang-orang Islam di negeri ini pada waktu itu menganggap agama mereka sebagai alat pengikat yang kuat yang membedakan mereka dari orang-orang yang bukan Islam yang mereka anggap sebagai “orang asing”. Walaupun begitu, demikian Snouck Hurgronje, orang Islam di Indonesia lebih memperhatikan persoalan Islam sebagai agama dalam pengertian yang sempit (seperti perkawinan, hubungan keluarga, peraturan berkenaan dengan waris) sedangkan aspek politik dan sosial dari agama Islam kurang mendapat perhatian. [15]
Snouck Hurgronje menasehatkan pemerintah Belanda agar memberikan perhatian yang sangat kepada pendidikan dan pengajaran orang Islam Indonesia tanpa menghubungkannya dengan persoalan pengkristenan. Cara ini, katanya, akan “memajukan {meng-emansipasi}” mereka “dari sistem Islam”.
Cara ini akan menyampaikan orang Indonesia untuk menerima kebudayaan Belanda, yaitu kebudayaan Barat, dan menumbuhkan pula pengertian yang lebih baik di antara mereka terhadap orang-orang Belanda.
Katanya lagi, adalah dia dalam ”asosiasi penduduk pribumi dengan kebudayaan kita [Belanda] terletak pemecahan persoalan Islam”. Cara ini akan “menghapuskan perbedaan yang dijumpai dalam aspek politik dan sosial karena kepercayaan agama [yang berbeda]”.
Hurgronje menambahkan lagi bahwa asosiasi itu akan "menghilangkan cita-cita pan-Islam dari segala kekuatannya.” Secara tak langsung cara tersebut akan bermanfaat bagi penyebaran agama Kristen sendiri, katanya lagi, sebab pelaksanaan politik asosiasi itu akhirnya akan memudahkan pekerjaan missi, oleh sebab missi akan “dapat lebih menumbuhkan pengertian pada kalangan penduduk pribumi yang telah kena asosiasi itu terhadap mereka.” [16]
Tetapi Politik Etis tidaklah sesabar Snouck Hurgronje dalam hal pengkristenan. Politik Etis tidak mengendurkan kegiatan missionaris agar memberi jalan bagi proses asosiasi seperti yang disarankan ilmuwan Belanda tersebut. Dalam hubungan ini pernyataan kerajaan Belanda dalam tahun 1901 yang memperkenalkan Politik Etis itu merupakan suatu bukti nyata:
Sebagai bangsa Kristen, Belanda mempunyai kewajiban untuk memperbaiki keadaan orang-orang Kristen pribumi di daerah kepulauan Nusantara, memberikan bantuan lebih banyak kepada kegiatan missi Kristen, dan memberikan penerangan kepada segenap petugas bahwa Belanda mempunyai kewajiban moril terhadap penduduk wilayah itu. [17]
Jadi persoalannya jelas, bukan karena Snouck tak membolehkan pengkristenan umat Islam di Indonesia, namun hanya beda cara antara Snouck dengan pemerintahan penjajah Belanda. Sedangkan missionaris pun didatangkan secara resmi oleh pemerintahan Belanda, ditambah pula dana yang jauh sangat berlipat-lipat dibanding terhadap Islam. Bisa disimak data berikut:
Subsidi dalam tahun (jumlah f - Gulden)
-----------------------------------------------------------------------------------
Agama 1936 1937 1938 1939
------------------------------------------------------------------------------------
Protestan 686.100 683.200 696.100 844.000
Katolik 286.500 290.700 296,400 335.700
Islam 7.500 7.500 7,500 7.600
___________________________________________________________
Sumber: Staatsblad 1936: No. 355 hal 25, 26; 1937 No. 410, hal 25,26; 1938: No. 511, hal 27,28; 1939: No. 593, hal 32, dikutip Deliar Noer, hal
39.
Setelah tergambar bahwa pengkristenan Indonesia oleh Belanda itu memang disengaja oleh penjajah Belanda, dan sebenarnya didukung pula oleh penasihat ahlinya yaitu Snouck Hurgronje hanya saja beda cara, maka sikap Snouck itu akan tampak lebih jelas lagi dalam data dan kemudian pernyataan Snouck Hurgronje sendiri. Berikut ini data sejarahnya.
Orientasi Snouck Hurgronje tampak jelas dalam bantahannya yang keras kepada Menteri Belanda, Lohman, dalam surat yang ditulisnya
kepada menteri pada 19 Desember 1913. Surat-surat kabar memuat penjelasan menteri bahwa Snouck Hurgronje mendukung semboyan
“Hindia Belanda untuk pengikut-pengikut Muhammad (orang-orang Islam)”. Snouck Hurgronje menulis hal berikut ini:
“Saya amat bergembira sekiranya tanggung jawab kesalahpahaman ini terletak pada para redaktur suratkabar. Jika demikian, masalahnya menjadi mudah. Akan tetapi, jika yang terjadi ternyata para redaktur membuat tulisan itu berdasarkan ucapan Anda, maka saya bertanya kepada Anda dengan penuh sopan. Anda mesti memberitahukan saya, yang mana dari tulisan-tulisan saya yang tidak sedikit membahas Islam di Hindia Belanda yang membuat Anda salah paham tersebut? Barangkali Anda tidak tahu bahwa saya tanpa kepentingan pribadi, telah memberikan andil dalam pengkaderan para missionaris di Rotterdam. Karena ceramah-ceramah saya tentang Belanda dan Islam, saya menerima surat-surat penghargaan yang dikirim kepada saya secara langsung oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, direktur Misi Kristenisasi, dan misionaris Adriani, dan dari Albert Kruyt, mantan Konsul di Jeddah. Mereka semua sudah menjalin hubungan persahabatan dengan saya sejak 25 tahun yang lalu. Karena itu, saya berhak menuntut agar jangan menilai kecuali pada apa yang saya katakan atau yang saya tulis sendiri. Yang saya inginkan, agar mereka yang tidak menguasai persoalan hendaklah berdiam diri dan tidak berbicara tentang saya, dan tentang pekerjaan saya dalam pertemuan-pertemuan orang banyak.” [18]
Dari perasaan superioritas itulah, Snouck Hurgronje menyerang syariat, karena seperti para orientalis lain pada masanya, dia percaya bahwa “kebudayaan Eropa” tidak mungkin memberantas “orang-orang bodoh Muslim”, kecuali jika mereka melepaskan diri dari agama “reaksioner”. Karena itu, dia tidak bersemangat atas pengiriman misi pekabaran Injil. Pada waktu yang sama, dia tidak memberi perintah untuk melarang pengiriman misi ke Hindia Belanda, kecuali jika mayoritas penduduknya menganut Islam, mereka diperintahkan menjalankan muslihat dan bujuk rayu. Di samping itu, dia pun menggalakkan pembukaan sekolah-sekolah misi dengan harapan agar penganut Islam secara berangsur beralih ke agama Kristen.[19]
Penjelasan tambahan dan kesimpulan
1. Orientalis secara garis besar ada tiga kategori:
a. mengabdi kepentingan penjajah,
b. menjalankan misi Kristen/ Katolik,
c. berupaya obyektif, tetapi ini sangat langka dan bahkan dimusuhi oleh dua kelompok lainnya.
2. Orientalis tradisional adalah yang mengabdi kepada penjajah dan kepentingan misi. Sehingga bila ada orientalis yang mau obyektif maka dipengaruhi bahkan dimusuhi oleh para orientalis tradisional itu.
3. Christian Snouck Hurgronje adalah orientalis Belanda terkemuka akhir abad 19 dan abad 20 (w 1936) yang menjadi penasihat khusus
kolonial Belanda urusan (Islam) di Hindia Belanda.
4. Untuk kepentingan kolonial Belanda itu Snouck menyamar sebagai orang Islam dan masuk ke Makkah selama 6,5 bulan dengan nama samaran Abdul Gaffar. Atas bantuan Raden Abu Bakar, bangsawan Indonesia di Jeddah, maka Snouck bisa menemui syekh-syekh di Makkah bahkan ulama tertinggi, Ahmad bin Zaini Dahlan. Atas bantuan Raden Abu Bakar itu Snouck mendapatkan rekomendasi dari Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Makkah, untuk berhubungan dengan ulama-ulama di Jawa (Indonesia). Kepentingan itu tampaknya gayung bersambut, karena Mufti Makkah Ahmad bin Zaini Dahlan adalah orang yang paling keras menentang Wahabi bahkan memfatwakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri faham Wahabi sebagai Musailamah Al-Kaddzab baru, karena sama-sama dari Yamamah.
Pengaruh Wahabi jangan sampai tumbuh di Jawa, maka rekomendasi untuk Snouck pun diberikan oleh Mufti Ahmad Zaini Dahlan demi memperlancar hubungannya dengan para ulama di Indonesia.
5. Kelihaian Snouck di Aceh pun tak kurang “menguntungkan” bagi Belanda. Dengan adanya Snouck bisa mendekati Habib Abdur Rahman Ad-Dhohir yang menginginkan jadi Sultan di Aceh, Snouck mampu mengorek rahasia-rahasia yang “dijual” oleh Habib itu tentang ulama dan umat Islam Aceh.
6. Setelah Snouck mendapatkan rahasia akurat dari pengkhianat Aceh yaitu Habib Abdur Rahman tersebut, maka Snouck mengusulkan kepada pemerintah Belanda bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan para ulama Aceh.
7. Meskipun sebegitu tegasnya untuk menghancurkan ulama dan Muslimin Aceh, namun Snouck tidak setuju kalau kristenisasi di Indonesia itu memakai cara-cara yang dilakukan missionaris selama ini. Snouck menyarankan agar kristenisasi dilakukan secara pendekatan dan sosialisasi budaya Eropa/ Belanda. Dengan cara pendekatan budaya itu menurut Snouck, umat Islam Indonesia tidak bereaksi, dan bahkan nantinya mereka masuk Kristen dengan sendirinya.
8. Ide dan cara yang diusulkan Snouck itu ditentang oleh pihak missionaris yang memang ditugaskan secara resmi oleh kerajaan Belanda ke Indonesia, sehingga terjadi polemik antara Snouck dengan anggota parlemen, dan bahkan Menteri Belanda, Lohman. menuduh Snouck sebagai orang yang menghalangi kristenisasi di Indonesia.
9. Tidak kurang dari itu, Prof HM Rasjidi intelektual Indonesia yang dikenal anti kristenisasi pun bahkan menilai Snouck sebagai teman
umat Islam Indonesia, karena Snouck tak membolehkan umat Islam ini dikristenkan Belanda.
10. Apa yang difahami HM Rasjidi itu tidak mendasar, karena justru Snouck sendiri menolak keras tuduhan Menteri Belanda, Lohman, yang menganggap Snouck tak menyetujui Kristenisasi di Hindia Belanda. Hingga Snouck menunjukkan bukti-bukti kegigihannya membantu pengkaderan misi Kristen di Rotterdam, dan penghargaan terhadap dirinya langsung dari Gubernur Jendral di Hindia Belanda atas upaya missi yang diemban Snouck.
11. Meskipun demikian, Snouck sendiri mencatatkan dirinya di buku Bevolingsregister te Leiden sebagai orang yang ‘tidak beragama’.
Demikianlah sikap Christian Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Muslimin di Indonesia, selaku penasihat ahli pemerintah kolonial
Belanda. Orang yang suka bermisal-misal tentang musang berbulu ayam, mungkin bisa mengatakan: Snouck itu saking pandainya berbulu ayam, maka mssionaris dan menteri Belanda menuduhnya sebagai ayam. Demikian pula Prof HM Rasjidi menganggap Snouck sebagai teman ayam. Tetapi Snouck sendiri mencak-mencak bahwa dirinya bukanlah ayam, tetapi pembina kader musang, dan mendapat penghargaan langsung dari Gubernur Jendral musang.
*Hartono Ahmad Jaiz penulis buku-buku Islam, pemimpin redaksi nahimunkar.com,
tinggal di Jakarta.
[1] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1985, h 20-21.
[2] Dr Qasim As-Samra’i, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M, hl 139.
[3] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, cetakan pertama, 1985, hal 1-2, mengutip Harry J Benda, “Christian Snouck Hurgronje and the Foundations of Dutch Islamic Policy in Indonesia,” dalam Contiunity and Change in Southeast Asia, (Yale University, 1972), hal 83.
[4] Aqib Suminto, hal 2.
[5] Dr Qasim As-Samra’i, Op cit, hal 142-143.
[6] Ibid hal 143-144.
[7] Ibid hal 154.
[8] K. Van de Maaten, Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog, Leiden, 1948, hal 95, dikutip Dr Qasim Assamurai, hal 158.
[9] Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq, terjemahan AM Basalamah, Menyingkap Tabir Orientalisme, Pustaka Al- Kautsar, Jakarta, I, 1992, hal 97-98.
[10] Hendrik Kraemer, the Crisitian Message in a non-Christian World, London, 1938, edisi kedua, 1947.
[11] B.J Boland, the Strugle of Islam in Modern Indonesia’s Gravenhage, 1970, hal 236, dikutip Qasim Assamurai hal 164.
[12] Kraemer, op cit, hal 353, bandingkan Boland, op cit, hal 240, no 146, dikutip Qasim, ibid, hal 164.
[13] Endang Basri Ananda (editor), 70 Tahun Prof. Dr. H.M Rasjidi, Harian Umum Pelita, Jakarta, 1985, hal.53-54
[14] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, cetakan II, 1985, hal 182, mengutip Pangeran Aria chmad
Djajadiningrat, Kenang-kenangan (Jakarta: Kolff-Buning/ Balai Pustaka, 1936), hal 385.
[15] Deliar Noer, hal 182-183, mengutip Hurgronje, Nederland en de Islam, edisi ke-2 (Leiden: E.J Brill, 1915), hal 59, 78.
[16] Hurgronje, ibid, hal 94, dikutip Deliar, hal 183.
[17] Deliar, hal 183-184, mengutip Handelingen der Staten Generaal, Pidato kenegaraan Raja, 18 September 1901 sebagai dikutip oleh van der Kroef, JM va der, Dutch Colonial Policy in Indonesia, hal. 53).
[18] Dr Qaim As-Samra’i, op. cit., hal 165-166, mengutip bagian-bagian surat Snouck Hurgronje kepada Menteri Lohman dari teks pidato van Koningsveld dengan izinnya.
[19] Dr qasim As-Samra’i, -- hal 168, mengutip Bevolkingsregister te Leiden.
dan Rekayasa Snouck Hurgronje
Oleh Hartono Ahmad Jaiz*
Kemenangan partai agama (Kristen) pada pemilihan di Belanda tahun 1901 merubah wajah politik di sana. Partai Liberal --yang telah menguasai politik selama 50 tahun-- kehilangan kekuasaannya; sedangkan golongan agama semakin kuat dan membawa pemerintahan ke prisnsip Kristen. Pidato tahunan raja pada bulan September 1901 --yang menggambarkan jiwa Kristen --menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggung jawab moral kepada rakyat Hindia Belanda (Nusantara), yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas, sejalan dengan politik hutang budi yang dicanangkan. [1]
Snouck Horgronje Contoh Nyata
Snouck Hurgrunje bermaksud menukar Islam dengan kebudayaan Eropa, sehingga upaya kepentingan politik dan agama (Kristen) menjadi gampang.
“To bring about a cultural unity string enough to void the difference of religious denomination from its political and social significance.” (Menjadikan ikatan kesatuan budaya dapat melenyapkan perbedaan agama dari kepentingan politik dan kemasyarakatan). [2]
Taktik Penjajah Belanda
Munculnya para orientalis Belanda itu perlu disimak pula latar belakang politik penjajah Belanda yang menguasai Indonesia selama tiga setengah abad. Dr Aqib Suminto menggambarkan strategi penjajah Belanda, di antaranya diungkapkan sebagai berikut:
Usaha Belanda untuk mengkonsolidasi kekuatannya mendapat perlawanan dari raja-raja Islam, dan di tingkat desa, dari para guru serta ulama Islam. Meskipun Belanda berhasil mengontrol sebagian besar daerah Nusantara yang ditaklukkannya, namun Islam tetap melebarkan sayapnya; bahkan sejak abad ke-19 Islam mendapatkan daya dorong, berkat semakin meningkatnya hubungan dengan Timur Tengah.[3]
Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam ini, sering disebut dengan istilah Islam Politiek, dimana Prof Snouck Hurgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum itu kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai masalah Islam.
Berkat pengalamannya di Timur Tengah dan Aceh, Snouck Hurgronje, sarjana sastra Smith yang mempunyai andil sangat besar dalam penyelesaian perang Aceh ini kemudian berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia. [4]
Siapa Snouck Hurgronje Itu?
Christian Snouck Hurgronje lahir pada tahun 1857. Ayahnya seorang pendeta. Dia belajar teologi dari guru Taurat, Abraham Kuenen,
kemudian mulai belajar bahasa Arab dan Islam pada M J de Goeje. Atas bimbingan de Goeje, dia berhasil menyusun disertasi Het Mekkaansche Feast (Berhaji ke Makkah) pada tahun 1880. Ketika dilangsungkan konferensi para orientalis di Leiden pada tahun 1883, hadir pula Amin Al- Madani Al-Halwani yang membawa sekumpulan manuskrip berharga dan menjualnya kepada penerbit E.J. Brill. Beberapa bagian manuskrip dibeli oleh Universitas Leiden. Pada konferensi itu, Snouck Hurgronje berkenalan dengan Amin Al-Madani. Setelah Amin Al-Madani menulis kesan-kesannya tentang konferensi itu dalam surat kabar Al-Burhan terbitan Kairo, Snouck segera menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab (Belanda?, pen).
Setelah konferensi itu, Amin bin Hasan Al-Halwani Al-Madani berangkat ke India tempat menerbitkan buku al-Qurb fi mahabbat al- Arab (Pendekatan dalam mencintai orang-orang Arab) oleh Abdur Rahim Al-Iraqi pada bulan Shafar 1302H (1884M). Dia menyebut dirinya sebagai guru di Raudhatul Muthahharah. Setahun setelah konferensi orientalis itu, Snouck dengan ditemani Konsul Belanda, Kruyt, berangkat ke Jeddah. Pertanyaan yang muncul ialah apakah ada hubungan antara perkenalan Snouck Hurgronje dan Amin Al-Madani dengan keberangkatan Snouck ke Jeddah, kemudian pernyataan masuk Islamnya dan masuknya ke Makkah al-Mukarromah.
Sebahagian besar surat pribadinya masih tertutup bagi para peneliti berdasarkan wasiat puterinya sampai tahun 1894. Jadi, jawaban pertanyaan tadi masih sangat tergantung pada orang lain. Namun demikian, mungkin sekali Amin Al-Madani sudah melapangkan jalan bagi Snouck Hurgronje untuk memasuki Makkah Al-Mukarramah. Data sejarah menyebutkan bahwa Snouck menyatakan Islam di hadapan orang banyak dan saksi-saksi secara tipu muslihat. Dia terus memainkan peran di tengah kaum Muslimin Makkah, kemudian di Indonesia selama hidupnya. Menurut responden yang dapat dipercaya dari Indonesia disebutkan bahwa Snouck menipu seorang camat dengan pengakuan keislamannya dan mengawini puteri camat itu. Dari isterinya dia memperoleh beberapa orang anak dan yang sulung bekerja pada satu jabatan penting dalam kepolisian di Indonesia.
Kami yakin akan kebenaran informasi itu ketika bertemu seorang cucu Snouck secara pribadi dengan ditemani Sjord van Koningsveld di Leiden. Tidak ada keraguan bahwa Snouck pandai memainkan peran di hadapan isteri dan anak-anaknya, seperti kepandaiannya memainkan peran di tengah kebanyakan umat Islam yang menganugerahkan kepadanya kecintaan lalu dikhianatinya sendiri. [5]
Snouck menetap selama enam setengah bulan di Makkah dengan memakai nama Abdul Ghaffar. Dia mendatangi majelis-majelis ulama dan kiyai-kiyai pemimpin pengajian hingga dia berhasil menjalin hubungan erat dengan banyak ulama Makkah dan sejumlah ulama dari Jawa, Sumatera, dan Aceh yang berdatangan ke Makkah, khususnya kepada Syekh Makkah dan muftinya, Syekhnya para ulama, Ahmad bin Zaini Dahlan . Tampaknya, Syekh yang baik membolehkan kepadanya atau membekalinya surat rekomendasi, agar rencana Snouck menjadi lebih sempurna dalam membuka jalan di Indonesia, khususnya di daerah Aceh yang memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Dia juga menjalin hubungan baik dengan Habib Abdur Rahman al-Zahir yang tampaknya berambisi agar dijadikan Sultan oleh Belanda untuk daerah Aceh. Gagasannya tentang cara terbaik untuk menghancurkan pemberontakan kaum muslimin di Aceh disampaikan kepada Konsul Belanda, Kruyt, dan Snouck Hurgronje. Untuk mencapai tujuan itu, dia memberatkan pemerintah Belanda, tetapi akhirnya dia merasa puas dengan gaji besar yang diperolehnya dari Konsulat Belanda di Jeddah seumur hidupnya. Jadi, tidak aneh jika kaum muslimin di Aceh mengecap Habib Abdur Rahman al- Zahir dan Snouck Hurgronje sebagai pengkhianat hingga sekarang ini. [6]
Hubungan Snouck dengan Missi Kristen dan Penyamarannya
Adapun hubungan Snouck dengan misi kristenisasi, kembali pada asal usul lingkungan kelahirannya sendiri pada masa dia hidup dan belajar, serta fakultas tempat dia menimba ilmu. Dia adalah putra penganut gereja Protestan Calvinisme yang terkenal akan ajaran-ajaran dan kekerasan teologinya, kemudian belajar teologi pada fakultas yang didirikan khusus untuk menyiapkan para pendeta. Dia hidup pada masa Eropa menguasai sebahagian besar penduduk dunia, termasuk di dalamnya kaum Muslimin. Dia belajar bahasa Arab pada de Goeje, ilmuwan ulung yang memiliki sikap ilmiah obyektif dan mentalitas mulia, serta kesungguhan luar biasa dalam penelitian dan penerbitannya. Kenyataan itu menonjol pada muridnya, Van Fluton (w. 1902), dan keilmiahannya pada teks-teks yang diterbitkannya Miftah al-’Ulum oleh Al-Khawarizmi serta Al-Mahasin wa Al-Adhdan yang dinisbahkan kepada Al-Jahiz dan lain-lain. [7]
Sikap Snouck terhadap Islam, Ulama, dan Muslimin
Fakta sejarah menunjukkan kedustaan Snaouck Hurgronje dan rencana penyamarannya itu bukan tidak mungkin menunjukkan bahwa masuk Islamnya di Jeddah serta hubungannya dengan orang-orang Aceh di Mekkah al-Mukarramah pun termasuk perbuatan pura-puranya. Namun, dusta tersebut telah memberinya jalan memasuki daerah Aceh, tempat dia akan mengumpulkan informasi-informasi yang dapat memberi saham dalam mewujudkan pemecahan masalah atas daerah Aceh bagi Belanda. Untuk itu Snouck Hurgronje menerima pekerjaan di Batavia.
Dalam perjalanan mata-matanya itu, orang-orang Aceh, termasuk beberapa ulama, menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Mereka
memberi sambutan hangat dan menerima kedatangannya. Laporan-laporannya (kepada pemerintah Belanda, pen) berisi kebencian, dendam, pemutarbalikan, dan kebohongan, khususnya terhadap para ulama yang dianggap sebagai kendala penghambat tunduknya daerah Aceh kepada pemerintah Belanda. Para ulama merupakan motor penggerak spitritual masyarakat dalam membela daerah itu sehingga di dalam laporan-laporan spionasenya, para ulama itu berpuluh-puluh kali dijuluki gerombolan ulama . Selain itu, diapun menyampaikan usul kepada pemerintah kolonial untuk menempuh cara politik kekerasan dan penumpasan terhadap para ulama dengan menyatakan:
“Sesungguhnya musuh utama dan yang giat adalah para ulama dan para petualang yang menyusun gerombolan-gerombolan yang kuat.
Sekalipun jumlah mereka sedikit dan tumbuh di antara lapisan-lapisan masyarakat yang bermacam-macam, mereka mendapat tambahan dari sebagian penduduk dan pemimpin-pemimpinnya. Tidak mungkin akan diperoleh manfaat dalam perundingan dengan partai musuh ini karena akidah dan kepentingan pribadi mereka mengharuskan mereka untuk tidak tunduk, kecuali dengan penggunaan kekerasan terhadap mereka.
Sesungguhnya persyaratan yang paling mendasar untuk mengembalikan peraturan di daerah Aceh haruslah mengkaunter para ulama dengan kekerasan sehingga ‘ketakutan’ menjadi faktor yang menghalangi orang-orang Aceh untuk bergabung dengan pemimpin-pemimpin gerombolan agar terhindar dari bahaya. Menurut pendapat saya, mesti dipersiapkan rencana mata-mata yang efektif dan terorganisasi untuk memata-matai Tuanku Kuta Karang (pemimpin ulama pada tahun 1892) dan gerombolannya. Pasti akan ada hasil awalnya. Biarpun saya tidak mampu menjelaskan seluruh rinciannya, namun saya berani berkata bahwa pekerjaan mata-mata itu adalah suatu kemungkinan.” [8]
Demikianlah faktanya. Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin . Karena itu Jendral tadi mendapat julukan “pedang Snouck yang ampuh” karena keberhasilannya dalam memerangi umat Islam. Di samping itu Snouck Hurgronya juga banyak membantu dalam pembinaan kader missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di seluruh wilayah jajahannya.
Terdapat fakta lain pula bahwa seorang tokoh missionaris kondang dan sangat disegani di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Kraemer adalah murid Snouck Hurgronje, dari tahun 1921 hingga tahun 1935. Hubungan di antara guru dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje wafat pada tahun 1936. [9]
Dr Van Koningsveled berkata: “Tidak terputus surat menyurat antara Snouck Hurgronje dan muridnya, Hendrik Kraemer, misisionaris terkenal dan berpengaruh dalam lingkungan aktivis kristenisasi dari tahun 1921 sampai dengan 1935. Menurut penjelasan Boland, buku Hendrik Kraemer, Misi Kristen di Dunia Non Kristen [10] mengungkapkan dengan jelas bahwa orang-orang Kristen mempunyai rencana untuk mengkristenkan dunia, khususnya Indonesia. Mereka bertujuan menundukkan dunia Islam. [11] Bahkan, Kraemer membandingkan Islam dengan Nazi. [12]
Snouck dan Kristenisasi di Indonesia
Meskipun data dan fakta sejarah telah jelas seperti tersebut di atas, namun di Indonesia sendiri pernah terjadi semacam kegoncangan di kalangan umat Islam yang banyak memperhatikan seluk beluk nasib ummat. Pada tahun 1985 Prof Dr HM Rasjidi yang dikenal sangat vokal terhadap pemikiran Barat walaupun beliau alumni Barat, dan vokal pula dalam hal kristenisasi, namun justru beliau jelas-jelas mengemukakan bahwa Dr Christian Snouck Hurgronje itu teman umat Islam Indonesa. Beliau menyalahkan muslimin pada umumnya yang menganggap Snouck itu musuh, karena menurut beliau, Muslimin pada umumnya tidak membaca karya-karya orientalisme. Justru Snouck menurut HM Rasjidi, pernah berpolemik dengan anggota parlemen Belanda, karena Snouck tak membolehkan orang Islam di Indonesia untuk dikristenkan.
Berikut ini pendapat HM Rasjidi yang dituangkan H Subagijo AN dalam biografi HM Rasjidi: "Tiap kali Rasjidi mengamati kepribadian Massignon, tiap kali pula dia teringat tokoh di negaranya sendiri, Dr. Crhistian Snouck Hurgronje, seorang orientalis besar pada zamannya. Oleh kebanyakan orang di Indonesia, Snouck Hurgronje dianggap sebagai kaki tangan kaum imperalis; alat kaum penjajah; sehingga segala ulah dan sikapnya dinilai sangat menguntungkan kolonialis Belanda semata. Namun bagi Rasjidi figur Snouck Hurgronje justeru merupakan teman ummat Islam Indonesia. Penilaian keliru terhadap Snouck itu, menurut Rasjidi disebabkan karena pada umumnya orang belum pernah membaca buku-buku karya orientalis tadi secara lengkap dan teliti.
Sebagai cendekiawan yang sudah membaca seluruh karya Snouck Hurgronje secara tuntas, Rasjidi sampai pada kesimpulan, bahwa doktor (Snouck Hurgronje) tersebut pada hakekatnya adalah teman ummat Islam Indonesia. Dr. Snouck, di kalangan orang Belanda sendiri dikenal sebagai seorang yang anti-zending dan anti-missi. Snouck pernah berpolemik dengan anggota parlemen Belanda yang menaruh simpati pada gereja. Ujar sang anggota parleman, “Kami ini tidak mengkristenkan orang Islam. Yang kami kristenkan adalah orang-orang Jawa yang tidak bersembahyang, Yang tidak membaca Al-Qur’an, yang hanya bisa mengucapkan syahadat pada waktu akan nikah saja”.
Ucapan itu ditanggapi Snouck dengan tegas jelas: “Kalau Anda sudah tahu bahwa orang Jawa mengaku Islam, itu sudah cukup. Bahwa mereka tidak mendirikan shalat, tidak paham bahasa Arab, itu sama sekali tidak mengurangi sifat keislamannya. Anda sendiri yang mengaku ummat kristen, apakah semua juga pernah membaca Injil? Dan juga pergi ke Gereja dengan teratur? Dan bila di dalam Injil disebutkan: Bila diminta bajunya, hendaknya Anda kasihkan jubahnya, apakah Anda pernah memberi jubah yang diminta orang lain?”. Demikian antara lain polemik antara Dr. Snouck Hurgronje dengan anggota parlemen Belanda yang membawakan suara kaum gerejani. [13]
(Komentar kami, penulis artikel ini):
Apa yang dikemukakan Dr HM Rasjidi itu tidak bisa dijadikan landasan bahwa Snouck Hurgronje tidak menginginkan Umat Islam Indonesia jadi Kristen. Justru maksud dan tujuannya hampir sama dengan missionaris, hanya saja cara mengkristenkannya itu bukan lewat kristenisasi model missionaris, namun lewat budaya, agar umat Islam tergiring tanpa terasa.
Kalau model missionaris, menurut pandangan Snouck, justru akan terjadi reaksi dari umat Islam, hingga apa yang dituju yaitu pengkristenan itu sendiri tidak akan tercapai. Cara yang ditempuh Snouck itu bisa dibuktikan dengan apa yang ditulis oleh para peneliti sebagai berikut.
Deliar Noer menulis:
Asosiasi sebagai kebijaksanaan yang diperjuangkan ilmuwan Belanda Christian Snouck Hurgronje, mendapat tempat hanya pada beberapa gelintir orang Belanda dan Indonesia saja terutama mereka yang berafiliasi dengan perkumpulan Nederlandsch Indische Vrijzinningen Bond (Kesatuan Kaum Liberal Hindia Belanda). [14]
Lanjut Deliar, yang dipersoalkan oleh Snouck Hurgronje ialah bagaimana menghadapi soal Islam. Hal ini mudah difahami karena Islam telah memperlihatkan semangat perjuangannya di Indonesia dalam bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap penetrasi Belanda di berbagai wilayah negeri ini. Snouck Hurgronje mengamati bahwa walaupun Islam di Indonesia banyak tertutup oleh lapisan kepercayaan lain seperti kepercayaan animisme dan Hindu, orang-orang Islam di negeri ini pada waktu itu menganggap agama mereka sebagai alat pengikat yang kuat yang membedakan mereka dari orang-orang yang bukan Islam yang mereka anggap sebagai “orang asing”. Walaupun begitu, demikian Snouck Hurgronje, orang Islam di Indonesia lebih memperhatikan persoalan Islam sebagai agama dalam pengertian yang sempit (seperti perkawinan, hubungan keluarga, peraturan berkenaan dengan waris) sedangkan aspek politik dan sosial dari agama Islam kurang mendapat perhatian. [15]
Snouck Hurgronje menasehatkan pemerintah Belanda agar memberikan perhatian yang sangat kepada pendidikan dan pengajaran orang Islam Indonesia tanpa menghubungkannya dengan persoalan pengkristenan. Cara ini, katanya, akan “memajukan {meng-emansipasi}” mereka “dari sistem Islam”.
Cara ini akan menyampaikan orang Indonesia untuk menerima kebudayaan Belanda, yaitu kebudayaan Barat, dan menumbuhkan pula pengertian yang lebih baik di antara mereka terhadap orang-orang Belanda.
Katanya lagi, adalah dia dalam ”asosiasi penduduk pribumi dengan kebudayaan kita [Belanda] terletak pemecahan persoalan Islam”. Cara ini akan “menghapuskan perbedaan yang dijumpai dalam aspek politik dan sosial karena kepercayaan agama [yang berbeda]”.
Hurgronje menambahkan lagi bahwa asosiasi itu akan "menghilangkan cita-cita pan-Islam dari segala kekuatannya.” Secara tak langsung cara tersebut akan bermanfaat bagi penyebaran agama Kristen sendiri, katanya lagi, sebab pelaksanaan politik asosiasi itu akhirnya akan memudahkan pekerjaan missi, oleh sebab missi akan “dapat lebih menumbuhkan pengertian pada kalangan penduduk pribumi yang telah kena asosiasi itu terhadap mereka.” [16]
Tetapi Politik Etis tidaklah sesabar Snouck Hurgronje dalam hal pengkristenan. Politik Etis tidak mengendurkan kegiatan missionaris agar memberi jalan bagi proses asosiasi seperti yang disarankan ilmuwan Belanda tersebut. Dalam hubungan ini pernyataan kerajaan Belanda dalam tahun 1901 yang memperkenalkan Politik Etis itu merupakan suatu bukti nyata:
Sebagai bangsa Kristen, Belanda mempunyai kewajiban untuk memperbaiki keadaan orang-orang Kristen pribumi di daerah kepulauan Nusantara, memberikan bantuan lebih banyak kepada kegiatan missi Kristen, dan memberikan penerangan kepada segenap petugas bahwa Belanda mempunyai kewajiban moril terhadap penduduk wilayah itu. [17]
Jadi persoalannya jelas, bukan karena Snouck tak membolehkan pengkristenan umat Islam di Indonesia, namun hanya beda cara antara Snouck dengan pemerintahan penjajah Belanda. Sedangkan missionaris pun didatangkan secara resmi oleh pemerintahan Belanda, ditambah pula dana yang jauh sangat berlipat-lipat dibanding terhadap Islam. Bisa disimak data berikut:
Subsidi dalam tahun (jumlah f - Gulden)
-----------------------------------------------------------------------------------
Agama 1936 1937 1938 1939
------------------------------------------------------------------------------------
Protestan 686.100 683.200 696.100 844.000
Katolik 286.500 290.700 296,400 335.700
Islam 7.500 7.500 7,500 7.600
___________________________________________________________
Sumber: Staatsblad 1936: No. 355 hal 25, 26; 1937 No. 410, hal 25,26; 1938: No. 511, hal 27,28; 1939: No. 593, hal 32, dikutip Deliar Noer, hal
39.
Setelah tergambar bahwa pengkristenan Indonesia oleh Belanda itu memang disengaja oleh penjajah Belanda, dan sebenarnya didukung pula oleh penasihat ahlinya yaitu Snouck Hurgronje hanya saja beda cara, maka sikap Snouck itu akan tampak lebih jelas lagi dalam data dan kemudian pernyataan Snouck Hurgronje sendiri. Berikut ini data sejarahnya.
Orientasi Snouck Hurgronje tampak jelas dalam bantahannya yang keras kepada Menteri Belanda, Lohman, dalam surat yang ditulisnya
kepada menteri pada 19 Desember 1913. Surat-surat kabar memuat penjelasan menteri bahwa Snouck Hurgronje mendukung semboyan
“Hindia Belanda untuk pengikut-pengikut Muhammad (orang-orang Islam)”. Snouck Hurgronje menulis hal berikut ini:
“Saya amat bergembira sekiranya tanggung jawab kesalahpahaman ini terletak pada para redaktur suratkabar. Jika demikian, masalahnya menjadi mudah. Akan tetapi, jika yang terjadi ternyata para redaktur membuat tulisan itu berdasarkan ucapan Anda, maka saya bertanya kepada Anda dengan penuh sopan. Anda mesti memberitahukan saya, yang mana dari tulisan-tulisan saya yang tidak sedikit membahas Islam di Hindia Belanda yang membuat Anda salah paham tersebut? Barangkali Anda tidak tahu bahwa saya tanpa kepentingan pribadi, telah memberikan andil dalam pengkaderan para missionaris di Rotterdam. Karena ceramah-ceramah saya tentang Belanda dan Islam, saya menerima surat-surat penghargaan yang dikirim kepada saya secara langsung oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, direktur Misi Kristenisasi, dan misionaris Adriani, dan dari Albert Kruyt, mantan Konsul di Jeddah. Mereka semua sudah menjalin hubungan persahabatan dengan saya sejak 25 tahun yang lalu. Karena itu, saya berhak menuntut agar jangan menilai kecuali pada apa yang saya katakan atau yang saya tulis sendiri. Yang saya inginkan, agar mereka yang tidak menguasai persoalan hendaklah berdiam diri dan tidak berbicara tentang saya, dan tentang pekerjaan saya dalam pertemuan-pertemuan orang banyak.” [18]
Dari perasaan superioritas itulah, Snouck Hurgronje menyerang syariat, karena seperti para orientalis lain pada masanya, dia percaya bahwa “kebudayaan Eropa” tidak mungkin memberantas “orang-orang bodoh Muslim”, kecuali jika mereka melepaskan diri dari agama “reaksioner”. Karena itu, dia tidak bersemangat atas pengiriman misi pekabaran Injil. Pada waktu yang sama, dia tidak memberi perintah untuk melarang pengiriman misi ke Hindia Belanda, kecuali jika mayoritas penduduknya menganut Islam, mereka diperintahkan menjalankan muslihat dan bujuk rayu. Di samping itu, dia pun menggalakkan pembukaan sekolah-sekolah misi dengan harapan agar penganut Islam secara berangsur beralih ke agama Kristen.[19]
Penjelasan tambahan dan kesimpulan
1. Orientalis secara garis besar ada tiga kategori:
a. mengabdi kepentingan penjajah,
b. menjalankan misi Kristen/ Katolik,
c. berupaya obyektif, tetapi ini sangat langka dan bahkan dimusuhi oleh dua kelompok lainnya.
2. Orientalis tradisional adalah yang mengabdi kepada penjajah dan kepentingan misi. Sehingga bila ada orientalis yang mau obyektif maka dipengaruhi bahkan dimusuhi oleh para orientalis tradisional itu.
3. Christian Snouck Hurgronje adalah orientalis Belanda terkemuka akhir abad 19 dan abad 20 (w 1936) yang menjadi penasihat khusus
kolonial Belanda urusan (Islam) di Hindia Belanda.
4. Untuk kepentingan kolonial Belanda itu Snouck menyamar sebagai orang Islam dan masuk ke Makkah selama 6,5 bulan dengan nama samaran Abdul Gaffar. Atas bantuan Raden Abu Bakar, bangsawan Indonesia di Jeddah, maka Snouck bisa menemui syekh-syekh di Makkah bahkan ulama tertinggi, Ahmad bin Zaini Dahlan. Atas bantuan Raden Abu Bakar itu Snouck mendapatkan rekomendasi dari Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Makkah, untuk berhubungan dengan ulama-ulama di Jawa (Indonesia). Kepentingan itu tampaknya gayung bersambut, karena Mufti Makkah Ahmad bin Zaini Dahlan adalah orang yang paling keras menentang Wahabi bahkan memfatwakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri faham Wahabi sebagai Musailamah Al-Kaddzab baru, karena sama-sama dari Yamamah.
Pengaruh Wahabi jangan sampai tumbuh di Jawa, maka rekomendasi untuk Snouck pun diberikan oleh Mufti Ahmad Zaini Dahlan demi memperlancar hubungannya dengan para ulama di Indonesia.
5. Kelihaian Snouck di Aceh pun tak kurang “menguntungkan” bagi Belanda. Dengan adanya Snouck bisa mendekati Habib Abdur Rahman Ad-Dhohir yang menginginkan jadi Sultan di Aceh, Snouck mampu mengorek rahasia-rahasia yang “dijual” oleh Habib itu tentang ulama dan umat Islam Aceh.
6. Setelah Snouck mendapatkan rahasia akurat dari pengkhianat Aceh yaitu Habib Abdur Rahman tersebut, maka Snouck mengusulkan kepada pemerintah Belanda bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan para ulama Aceh.
7. Meskipun sebegitu tegasnya untuk menghancurkan ulama dan Muslimin Aceh, namun Snouck tidak setuju kalau kristenisasi di Indonesia itu memakai cara-cara yang dilakukan missionaris selama ini. Snouck menyarankan agar kristenisasi dilakukan secara pendekatan dan sosialisasi budaya Eropa/ Belanda. Dengan cara pendekatan budaya itu menurut Snouck, umat Islam Indonesia tidak bereaksi, dan bahkan nantinya mereka masuk Kristen dengan sendirinya.
8. Ide dan cara yang diusulkan Snouck itu ditentang oleh pihak missionaris yang memang ditugaskan secara resmi oleh kerajaan Belanda ke Indonesia, sehingga terjadi polemik antara Snouck dengan anggota parlemen, dan bahkan Menteri Belanda, Lohman. menuduh Snouck sebagai orang yang menghalangi kristenisasi di Indonesia.
9. Tidak kurang dari itu, Prof HM Rasjidi intelektual Indonesia yang dikenal anti kristenisasi pun bahkan menilai Snouck sebagai teman
umat Islam Indonesia, karena Snouck tak membolehkan umat Islam ini dikristenkan Belanda.
10. Apa yang difahami HM Rasjidi itu tidak mendasar, karena justru Snouck sendiri menolak keras tuduhan Menteri Belanda, Lohman, yang menganggap Snouck tak menyetujui Kristenisasi di Hindia Belanda. Hingga Snouck menunjukkan bukti-bukti kegigihannya membantu pengkaderan misi Kristen di Rotterdam, dan penghargaan terhadap dirinya langsung dari Gubernur Jendral di Hindia Belanda atas upaya missi yang diemban Snouck.
11. Meskipun demikian, Snouck sendiri mencatatkan dirinya di buku Bevolingsregister te Leiden sebagai orang yang ‘tidak beragama’.
Demikianlah sikap Christian Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Muslimin di Indonesia, selaku penasihat ahli pemerintah kolonial
Belanda. Orang yang suka bermisal-misal tentang musang berbulu ayam, mungkin bisa mengatakan: Snouck itu saking pandainya berbulu ayam, maka mssionaris dan menteri Belanda menuduhnya sebagai ayam. Demikian pula Prof HM Rasjidi menganggap Snouck sebagai teman ayam. Tetapi Snouck sendiri mencak-mencak bahwa dirinya bukanlah ayam, tetapi pembina kader musang, dan mendapat penghargaan langsung dari Gubernur Jendral musang.
*Hartono Ahmad Jaiz penulis buku-buku Islam, pemimpin redaksi nahimunkar.com,
tinggal di Jakarta.
[1] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1985, h 20-21.
[2] Dr Qasim As-Samra’i, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M, hl 139.
[3] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, cetakan pertama, 1985, hal 1-2, mengutip Harry J Benda, “Christian Snouck Hurgronje and the Foundations of Dutch Islamic Policy in Indonesia,” dalam Contiunity and Change in Southeast Asia, (Yale University, 1972), hal 83.
[4] Aqib Suminto, hal 2.
[5] Dr Qasim As-Samra’i, Op cit, hal 142-143.
[6] Ibid hal 143-144.
[7] Ibid hal 154.
[8] K. Van de Maaten, Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog, Leiden, 1948, hal 95, dikutip Dr Qasim Assamurai, hal 158.
[9] Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq, terjemahan AM Basalamah, Menyingkap Tabir Orientalisme, Pustaka Al- Kautsar, Jakarta, I, 1992, hal 97-98.
[10] Hendrik Kraemer, the Crisitian Message in a non-Christian World, London, 1938, edisi kedua, 1947.
[11] B.J Boland, the Strugle of Islam in Modern Indonesia’s Gravenhage, 1970, hal 236, dikutip Qasim Assamurai hal 164.
[12] Kraemer, op cit, hal 353, bandingkan Boland, op cit, hal 240, no 146, dikutip Qasim, ibid, hal 164.
[13] Endang Basri Ananda (editor), 70 Tahun Prof. Dr. H.M Rasjidi, Harian Umum Pelita, Jakarta, 1985, hal.53-54
[14] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, cetakan II, 1985, hal 182, mengutip Pangeran Aria chmad
Djajadiningrat, Kenang-kenangan (Jakarta: Kolff-Buning/ Balai Pustaka, 1936), hal 385.
[15] Deliar Noer, hal 182-183, mengutip Hurgronje, Nederland en de Islam, edisi ke-2 (Leiden: E.J Brill, 1915), hal 59, 78.
[16] Hurgronje, ibid, hal 94, dikutip Deliar, hal 183.
[17] Deliar, hal 183-184, mengutip Handelingen der Staten Generaal, Pidato kenegaraan Raja, 18 September 1901 sebagai dikutip oleh van der Kroef, JM va der, Dutch Colonial Policy in Indonesia, hal. 53).
[18] Dr Qaim As-Samra’i, op. cit., hal 165-166, mengutip bagian-bagian surat Snouck Hurgronje kepada Menteri Lohman dari teks pidato van Koningsveld dengan izinnya.
[19] Dr qasim As-Samra’i, -- hal 168, mengutip Bevolkingsregister te Leiden.
Bintang Yang Hilang
Dulu aku pernah berdiri di atas samudra raya...
Menikmati semilir angin dengan bau garam yang pekat...
Lewat larikan kata...
Kenanganku membias tentang tapa para bintang...
Cahaya yang tak jua kumengerti....
Dan kisah terus belanjut...
Mengantarku pada arah yang pasti...
Saat malam memeluk dengan pekat seringkali kusimpan saja
kompasku dan mencumbui satu-satunya bintang yang kupilih
sebagai penanda....
Memanduku menuju jalan selanjutnya...
Adakah kau tahu... Dimana bintang itu hari ini....?.
Ataukah engkaulah bintang itu.....????.
Menikmati semilir angin dengan bau garam yang pekat...
Lewat larikan kata...
Kenanganku membias tentang tapa para bintang...
Cahaya yang tak jua kumengerti....
Dan kisah terus belanjut...
Mengantarku pada arah yang pasti...
Saat malam memeluk dengan pekat seringkali kusimpan saja
kompasku dan mencumbui satu-satunya bintang yang kupilih
sebagai penanda....
Memanduku menuju jalan selanjutnya...
Adakah kau tahu... Dimana bintang itu hari ini....?.
Ataukah engkaulah bintang itu.....????.
Kisah Maling Yang Bertaubat
Al-Qâdly at-Tannûkhiy berkata, "Seorang mantan maling yang sudah bertaubat menceritakan kepadaku, 'Suatu ketika aku singgah di sebuah kota, aku berniat mencuri sesuatu di sana, lalu mataku tertuju pada seorang pedagang VALAS (Valuta Asing) yang hidupnya berkecukupan. Aku mencari akal bagaimana bisa mencuri darinya hingga akhirnya berhasil mencuri sebuah kantong uang miliknya, lalu aku menyelinap. Tapi, tak berapa jauh, aku bertemu seorang nenek nan sudah renta bersama seekor anjingnya. Aku merasakan dadaku berdetak karena si nenek ini bersikap cemberut terhadapku dan seakan memaksa.
Dia berkata, 'Wahai cucuku, apa yang telah kau lakukan. Lihatlah anjing ini menggonggong dan bergelantung kepadaku!.' Lalu orang-orang ramai memandang ke arah kami. Akhirnya, si nenek itu berkata kepada khalayak, 'Ayo, lihatlah ke arah anjing ini. Dia telah mengenal orang ini.'
Orang-orangpun tertegun dengan kejadian itu sementara aku menjadi semakin bimbang sembari berkata di dalam hati, 'jangan-jangan nenek inilah yang menyusuiku dulu sementara aku tidak mengenalnya!.'
Si nenek kemudian berkata, 'Ayolah ikut aku, tinggallah di rumahku hari ini.' Dia tidak beranjak dariku hingga akhirnya aku pergi bersamanya menuju rumahnya. Ternyata di sana banyak sekali anak-anak muda yang sedang minum. Mereka memegangi banyak sekali buah-buahan di tangan mereka. Mereka menyambut kedatanganku, mengajakku ke dekat mereka dan menyuruhku duduk bersama mereka.
Aku melihat mereka berpakaian dengan pakaian yang bagus, lalu aku memfokuskan mataku kepadanya. Untuk menenangkan diri, aku menyediakan minuman untuk mereka hingga akhirnya mereka tertidur dan semua orang yang berada di rumah itu tertidur. Lalu aku bangun dan mempreteli semua apa yang mereka miliki satu-persatu, kemudian kabur. Namun tiba-tiba anjing menerkamku seakan singa yang ganas, ia menggonggong, berbolak-balik ke sana kemari sembari terus menggonggong hingga semua orang yang tidur terjaga. Aku menjadi malu dan sangat malu karenanya.
Begitu siang tiba, aku melakukan lagi apa yang pernah aku lakukan kemarin dan juga aku berbuat terhadap mereka dengan hal yang sama. Aku terus mencari siasat licik untuk mengecoh si anjing hingga malam tiba, namun aku mendapatkan ide apapun.
Tatkala mereka sudah tertidur, aku ingin melakukan hal yang biasa aku lakukan, tiba-tiba si anjing menghadangku seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya terhadapku. Sementara aku terus melakukan perbuatan licik itu selama tiga malam. Manakala aku merasa frustasi, aku memohon diberi izin untuk keluar dari rumah itu.
Aku berkata, "Apakah kalian mengizinkanku, karena aku sangat tergesa-gesa sekali." Mereka menjawab, "Hal itu terserah kepada si nenek tua."
Lalu aku meminta izin kepadanya, maka dia berkata, "Berikan kepadaku apa yang telah engkau curi dari pedagang VALAS itu, lalu pergilah kemana yang engkau suka dan jangan pernah menginjakkan kaki di kota ini lagi karena sesungguhnya tidak suatu pekerjaanpun yang dapat dilakukan seseorang selama aku ada di sini."
Lantas dia mengambil kantong yang aku curi tersebut dan mengusirku. Aku berhasil meraih cita-citaku untuk terlepas dari cengkeramannya.
Aku berusaha meminta pesangon darinya, lalu dia memberikannya kepadaku dan keluar bersamaku hingga akhirnya mengusirkku dari kota itu sementara si anjing masih setia bersamanya. Akupun melewati perbatasan kota itu.
Aku berhenti sejenak, kemudian berlalu sementara si anjing membuntutiku hingga aku menjauh kemudian ia pulang sembari melihat ke arahku dan menoleh. Aku juga melihat ke arahnya hingga ia hilang dari pandangan mataku."
(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.53-56 sebagai yang dinukilnya dari kitab al-Azkiyâ` karya Ibn al-Jawziy, h.188)
Hakikat Pernikahan
Ketika dua anak Adam memutuskan untuk mengikatkan diri dalam Pernikahan, ada maka pada saat itu ia telah membagi dirinya dalam sebuah kehidupan dimana dua kepribadian yang akhirnya kemudian suka atau tidak harus dijalani. Bagi setiap orang mereka memiliki alasan untuk melakukan pernikahan. Menikah dan memilih pasangan tidaklah kita lakukan seperti memilih baju ditoko. Pernikahan terjadi karena didukung oleh banyak faktor dan alasan, berikut kita lihat hakikat pernihan.... Jika hakikat pernikahan adalah karena SEX, maka pasangan rajin bertengkar jika servis di kamar tidur tidak memuaskan. Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA, maka pasangan bakal bubar jika bangkrut. Jika hakikat pernikahan adalah karena BEAUTY/BODY, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka keriput atau badan jadi gendut. Jika hakikat pernikahan adalah karena ANAK, maka pasangan akan cari alasan utk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir. Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya. Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik, lagi pula manusia yang dicintai pasti MATI / PERGI. Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH itu KEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kpd makhlukNYA. Dan ALLAH mencintai hambaNYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.
Rabu, 14 Desember 2011
Masih tentang catatan di hari Ulang Tahunmu
MD...
Meski kuterpasung dalam para-para takdir,
Tak pernah kulewatkan moment seperti hari ini.
Mengenangmu dalam kesunyianku.
Meski kutahu ini hal yang tak wajar,
kuyakini ini rangkaian dari peristiwa yang saling melengkapi untuk menjadi sempurna...
Potongan yang saling berkaitan,
serpihan yang saling menggenapkan...
Telah kutandatangani kesedihanku,
menerimanya dengan seluruh keikhlasan yang pernah aku tahu....
Menjalani kerinduanku dalam fatamorgana,
walaupun sepi, rindu dan kesedihanku takkan memperoleh jawaban....
Biarlah..., kulakukan itu untuk menebus kesalahanku......
SLAMAT ULANG TAHUN SAYANG.......,
meski kupendam saja tangisku, kesedihan yang tak kuasa menahan lelehan air mataku yang bening.....,
tak penting lagi engkau tahu... .......
aku memujamu.....
Meski kuterpasung dalam para-para takdir,
Tak pernah kulewatkan moment seperti hari ini.
Mengenangmu dalam kesunyianku.
Meski kutahu ini hal yang tak wajar,
kuyakini ini rangkaian dari peristiwa yang saling melengkapi untuk menjadi sempurna...
Potongan yang saling berkaitan,
serpihan yang saling menggenapkan...
Telah kutandatangani kesedihanku,
menerimanya dengan seluruh keikhlasan yang pernah aku tahu....
Menjalani kerinduanku dalam fatamorgana,
walaupun sepi, rindu dan kesedihanku takkan memperoleh jawaban....
Biarlah..., kulakukan itu untuk menebus kesalahanku......
SLAMAT ULANG TAHUN SAYANG.......,
meski kupendam saja tangisku, kesedihan yang tak kuasa menahan lelehan air mataku yang bening.....,
tak penting lagi engkau tahu... .......
aku memujamu.....
Rabu, 29 Juni 2011
Tutur Jiwaku
Meski malam disaput kabut,
batinku merapalkan mantra-mantra kerinduan seperti batinmu.
Sunyi sepiku berganti warna bahagia dalam jerujinya,
meski kau tak menemani malamku,
Tak ada artinya sepi jika doa-doamu memeluk jiwaku.
Kunikmati cawan demi cawan sunyi yang datang silih berganti.
Merenda kerinduan dan penantian yang terus menggema dalam labirin jiwa.
Anggur dalam cawanku pun telah habis dalam tegukan sunyi.
Jadi bagaimana mungkin aku bisa berbagi cawan denganmu...?
Sekedar tahu bahwa dengan meminunnya bagiku sudah cukup.
Meski kau tak disini.
Cukuplah aku tahu dirimu telah mengiklaskan kumereguknya hingga habis tak bersisa...
batinku merapalkan mantra-mantra kerinduan seperti batinmu.
Sunyi sepiku berganti warna bahagia dalam jerujinya,
meski kau tak menemani malamku,
Tak ada artinya sepi jika doa-doamu memeluk jiwaku.
Kunikmati cawan demi cawan sunyi yang datang silih berganti.
Merenda kerinduan dan penantian yang terus menggema dalam labirin jiwa.
Anggur dalam cawanku pun telah habis dalam tegukan sunyi.
Jadi bagaimana mungkin aku bisa berbagi cawan denganmu...?
Sekedar tahu bahwa dengan meminunnya bagiku sudah cukup.
Meski kau tak disini.
Cukuplah aku tahu dirimu telah mengiklaskan kumereguknya hingga habis tak bersisa...
Jumat, 18 Februari 2011
MALINO 12 Pebruary 2011
Narcis dulu sebelum berkemah ah.......
Memanjat di Air Terjun Kering....
Fhoto Bareng Sebelum bertanding....
Selasa, 08 Februari 2011
Fatima Az-Zahra
Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad saw berada di masjid
dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercintaFatima datang pada
Nabi saw. Dia meminta dengat sangat pada ayahnya untuk dapat meminjam
seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas
pekerjaan di rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatan yang buruk ia
tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air di
sumur yang jauh letaknya di samping harus merawat anak-anaknya.
Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak. Dengan menekan
perasaannya, beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, "Anakku tersayang,
aku tak dapat meluangkan seorang pun diantara mereka yang terlibat
dalam pengabdian 'Ashab-e-Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung
segala hal yang terberat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di
akhirat nanti."Fatima lalu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas
karena jawaban Nabi saw, dan selnjutnya tidak pernah lagi mencari pelayan
selama hidupnya.
Fatima az-Zahra si cantik dilahirkan 80 tahun sebelum Hijrah di Mekkah.
Dibesarkan dibawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi
umat Islam. Tidak seperti anak-anak lainnya,Fatima memiliki pembawaan
yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah dan
kesehatannya yang buruk menyebabkan ia terpisah dari kumpulan dan
permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yang agung itu
membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpati, dan
tahu mana yang benar.
Fatima sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun kebiasaan
yang saleh. Ia adalah seorang anak perempuan yang paling disayang ayahnya
dan sangat berbakti kepada Nabi saw setelah ibunya meninggal dunia.
Dengan demikian, dialah yang sangat besar jasanya mengisi kekosongan yang
ditinggalkan ibunya.
Pada beberapa kesempatan, Nabi Muhammad saw menunjukan rasa sayang yang
amat besar kepadaFatima . Suatu saat beliau berkata, "O Fatima, Allah
tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang
orang yang kau senangi". Juga Nabi saw dikabarkan telah berucap, "Fatima
itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih berarti membuat aku juga
menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya berarti menyenangkan aku
juga".
Aisyah, istri tercinta Nabi saw pernah berkata: "Saya tidak pernah
berjumpa dengan sosok pribadi yang lebih besar daripadaFatima , kecuali
kepribadian ayahnya".
Abu Bakar dan Umar, keduanya berusaha agar dapat menikah denganFatima ,
tetapi Nabi saw diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi saw
sendiri merasa ragu mencari jalan untuk dapat meminangFatima karena
dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang dan
langsung diterima oleh Nabi saw. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari
kulit) miliknya yang dimenangkan saat perang Badar seharga 400 dirham,
uangnya digunakan untuk mempersiapkan pesta pernikahannya. Upacara yang
amat sederhana, mencontohkan perlunya perayaan pernikahan tanpa
jor-joran dan serba pamer.
Fatima hampir berusia 18 tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar
ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah,
sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.
Kepada putrinya, Nabi saw berkata: "Anakku, aku telah menikahkanmu
dengan seorang laki-laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi
dari orang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan
kebijaksanaan".
Kehidupan perkawinanFatima berjalan lancar dalam bentuknya yang sangat
sederhana, gigih dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari
untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat dan
berbakti.Fatima melaksanakan tugas-tugas rumah tangga seperti
menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini
terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis
melangkah dari pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun
mereka sendiri masih lapar.
Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terletak pada keluarga
Nabi saw tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia,
Fatima Az-Zahra terkenal dengan kemurahan hatinya.
Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun
dalam praktek sihir datang kepada Nabi saw melontarkan kata-kata makian.
Tetapi Nabi saw menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu
heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia memeluk agama Islam. Nabi
lalu bertanya: "Apakah anda berbekal makanan?", Jawab orang itu:
"Tidak", Maka Nabi saw menanyai muslimin yang hadir disitu: "Adakah orang
yang mau menghadiahkan seekor unta kepada tamu kita ini?" Mu'ad ibn Ibada
menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan:
"Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain untuk menutup
kepala saudara seagama Islam?" Kepala orang itu tidak memakai tutup sama
sekali. Sayyidina Ali langsung melepaskan serbannya dam menaruh di atas
kepala orang itu. Kemudian Nabi saw minta kepada salman untuk membaw
orang itu ke tempat seorang yang dapat memberinya makan karena ia lapar.
Akhirnya Salman pergi ke rumahFatima , setelah mengetuk pintu Salman
memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan mata berlinang putri Nabi ini
mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak 3 hari yang lalu.
Namun ia enggan menolak seorang tamu, tuturnya: "Saya tidak dapat menolak
seorang tamu yang lapar tanap memberinya makan sampai kenyang".Fatima
lalu melepas kain kerudungnya dan memberikannya kepada Salman dengan
permintaan agar dibawakan kepada Shamoon seorang yahudi, untuk ditukar
dengan jagung. Salman dan orang yang baru memeluk agama Islam itu sangat
terharu. Orang yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri
Nabi hingga akhirnya ia memeluk agama Islam, dengan menyatakan bahwa
Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan
lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.
Salman balik ke rumahFatima dengan membawa jagung. Dan dengan
tangannya sendiriFatima menggiling dan membakarnya menjadi roti. Salman
menyarankan agarFatima menyisihkan beberapa buah roti untuk anak-anaknya
yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak berbuat demikian,
karena telah memberikan kain kerudungnya untuk kepentingan Allah.
Fatima dianugerahi 5 orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, Muhsin, dan
2 putri: Zainab dan Ummi Kalsum. Muhsin meninggal dunia waktu masih
kecil.
Fatima merawat luka Nabi saw sepulangnya dari Perang Uhud, FAtima juga
ikut berperang merebut Mekkah, juga ikut Nabi saw melaksanakan iabadah
Haji Wadaq pada akhir tahun 11 Hijriah.
Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi saw jatuh sakit,Fatima tetap
mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi saw membisikan
sesuatu kekkupingFatima yang membuatnya menangis, dan kemudian
membisikan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Setelah Nabi saw wafatFatima menceritakan kejadian itu kepada Aisyah.
Ayahnya membisikan berita kematiannya, itulah yang membuatnya menangis,
tapi waktu Nabi saw mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan
berkumpul dengannya di alam baka, maka Fatima menjadi bahagia.
Enam bulan setelah Nabi saw wafat, Fatima meninggal dunia ada usia 28
tahun. Dimakamkan oleh Ali di Janat ul-Baqih, Madinah dengan diantar
duka cita masyarakat luas.
Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita dan pada
konsepsi manusia yang paling mulia. Nabi saw sendiri menyatakan Fatima
akan menjadi 'Ratu segenap wanita yang berada di Surga'.
--dikutip dari buku Seratus Muslim Terkemuka karya Kh. Jamil Ahmad
Penerbit
Pustaka Firdaus Jakarta
dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta
Nabi saw. Dia meminta dengat sangat pada ayahnya untuk dapat meminjam
seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas
pekerjaan di rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatan yang buruk ia
tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air di
sumur yang jauh letaknya di samping harus merawat anak-anaknya.
Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak. Dengan menekan
perasaannya, beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, "Anakku tersayang,
aku tak dapat meluangkan seorang pun diantara mereka yang terlibat
dalam pengabdian 'Ashab-e-Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung
segala hal yang terberat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di
akhirat nanti."
karena jawaban Nabi saw, dan selnjutnya tidak pernah lagi mencari pelayan
selama hidupnya.
Dibesarkan dibawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi
umat Islam. Tidak seperti anak-anak lainnya,
yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah dan
kesehatannya yang buruk menyebabkan ia terpisah dari kumpulan dan
permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yang agung itu
membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpati, dan
tahu mana yang benar.
yang saleh. Ia adalah seorang anak perempuan yang paling disayang ayahnya
dan sangat berbakti kepada Nabi saw setelah ibunya meninggal dunia.
Dengan demikian, dialah yang sangat besar jasanya mengisi kekosongan yang
ditinggalkan ibunya.
Pada beberapa kesempatan, Nabi Muhammad saw menunjukan rasa sayang yang
amat besar kepada
tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang
orang yang kau senangi". Juga Nabi saw dikabarkan telah berucap, "
itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih berarti membuat aku juga
menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya berarti menyenangkan aku
juga".
Aisyah, istri tercinta Nabi saw pernah berkata: "Saya tidak pernah
berjumpa dengan sosok pribadi yang lebih besar daripada
kepribadian ayahnya".
Abu Bakar dan Umar, keduanya berusaha agar dapat menikah dengan
tetapi Nabi saw diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi saw
sendiri merasa ragu mencari jalan untuk dapat meminang
dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang dan
langsung diterima oleh Nabi saw. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari
kulit) miliknya yang dimenangkan saat perang Badar seharga 400 dirham,
uangnya digunakan untuk mempersiapkan pesta pernikahannya. Upacara yang
amat sederhana, mencontohkan perlunya perayaan pernikahan tanpa
jor-joran dan serba pamer.
ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah,
sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.
Kepada putrinya, Nabi saw berkata: "Anakku, aku telah menikahkanmu
dengan seorang laki-laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi
dari orang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan
kebijaksanaan".
Kehidupan perkawinan
sederhana, gigih dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari
untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat dan
berbakti.
menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini
terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis
melangkah dari pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun
mereka sendiri masih lapar.
Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terletak pada keluarga
Nabi saw tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia,
Fatima Az-Zahra terkenal dengan kemurahan hatinya.
Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun
dalam praktek sihir datang kepada Nabi saw melontarkan kata-kata makian.
Tetapi Nabi saw menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu
heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia memeluk agama Islam. Nabi
lalu bertanya: "Apakah anda berbekal makanan?", Jawab orang itu:
"Tidak", Maka Nabi saw menanyai muslimin yang hadir disitu: "Adakah orang
yang mau menghadiahkan seekor unta kepada tamu kita ini?" Mu'ad ibn Ibada
menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan:
"Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain untuk menutup
kepala saudara seagama Islam?" Kepala orang itu tidak memakai tutup sama
sekali. Sayyidina Ali langsung melepaskan serbannya dam menaruh di atas
kepala orang itu. Kemudian Nabi saw minta kepada salman untuk membaw
orang itu ke tempat seorang yang dapat memberinya makan karena ia lapar.
Akhirnya Salman pergi ke rumah
memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan mata berlinang putri Nabi ini
mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak 3 hari yang lalu.
Namun ia enggan menolak seorang tamu, tuturnya: "Saya tidak dapat menolak
seorang tamu yang lapar tanap memberinya makan sampai kenyang".
lalu melepas kain kerudungnya dan memberikannya kepada Salman dengan
permintaan agar dibawakan kepada Shamoon seorang yahudi, untuk ditukar
dengan jagung. Salman dan orang yang baru memeluk agama Islam itu sangat
terharu. Orang yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri
Nabi hingga akhirnya ia memeluk agama Islam, dengan menyatakan bahwa
Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan
lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.
Salman balik ke rumah
tangannya sendiri
menyarankan agar
yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak berbuat demikian,
karena telah memberikan kain kerudungnya untuk kepentingan Allah.
2 putri: Zainab dan Ummi Kalsum. Muhsin meninggal dunia waktu masih
kecil.
ikut berperang merebut Mekkah, juga ikut Nabi saw melaksanakan iabadah
Haji Wadaq pada akhir tahun 11 Hijriah.
Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi saw jatuh sakit,
mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi saw membisikan
sesuatu kekkuping
membisikan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Setelah Nabi saw wafat
Ayahnya membisikan berita kematiannya, itulah yang membuatnya menangis,
tapi waktu Nabi saw mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan
berkumpul dengannya di alam baka, maka Fatima menjadi bahagia.
Enam bulan setelah Nabi saw wafat, Fatima meninggal dunia ada usia 28
tahun. Dimakamkan oleh Ali di Janat ul-Baqih, Madinah dengan diantar
duka cita masyarakat luas.
Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita dan pada
konsepsi manusia yang paling mulia. Nabi saw sendiri menyatakan Fatima
akan menjadi 'Ratu segenap wanita yang berada di Surga'.
--dikutip dari buku Seratus Muslim Terkemuka karya Kh. Jamil Ahmad
Penerbit
Pustaka Firdaus Jakarta
Lukisan Kedamaian
Lukisan Kedamaian
Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian
Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka.Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu di antara keduanya. Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang.
Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.
Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk Pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.
Lukisan manakah yang memenangkan lomba?
Sang Raja memilih lukisan nomor dua, Tahukah anda mengapa?
"Karena", jawab sang Raja, "kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati"
diadaptasi dari Unknown, Coffeeintherain.com
Jumat, 07 Januari 2011
TENTANG PERNIKAHAN
“Pernikahan pada hakikatnya adalah kematian bagi siapa saja yang telah menjalaninya ,
ia membunuh kebebasan, memasung kreatifitas ,
dan mematahkan eratnya pesahabatan dengan kawan-kawan kita..
Pernikahan adalah ikatan yang menjadi symbol dari kepemilikan dan hak yang utuh atas jiwa dan raga. Melewati pintunya berarti kita telah telah mempersiapkan diri untuk menjadi budak atau tawanan atas nama cinta.
Pernikahan pada akhirnya menjelma menjadi penderitaan, sesal dan dukacita".
Senin, 03 Januari 2011
MUSIBAH
Menengadah Di kaki altar-Mu pun aku enggan.
Kini aku terpuruk
jatuh di kubangan tak berdasar.
Mencoba berkompromi dengan diri untuk menerima ketidak hati-hatian, kebodohan dan ketololan sebagai takdir-Mu.
Kepercayaan dikhianati
Kehormatan dan Harga diri di remuk,
Sobat...
Akupun kau antar menuju kursi kaum pesakitan...
Esok jika saja kau temukan aku berubah jadi belatung yang menggantung pada luka-lukamu, maafkan aku...
Bukan aku yang memulai ini semua...
Setiap orang akan menuai apa yang ditanamnya untuk orang lain...
Untuk semua akibat yang kau beri, tanya dihatiku telah pupus....
Cukup sudah...
Minggu, 02 Januari 2011
PERBUDAKAN
Hati nurani diciptakan semata untuk merasakan dan peka kondisi yang sulit pada kelompok dan individu lain. Hati nurani tidak diciptakan untuk menguasai orang lain dan “memakan” orang lain karena nafsu egoisme pribadi.
Kita terpuruk karena masih banyak semangat mematikan hati dan akal sehat mencekik masyarakat lemah, tertindas dan miskin.
Analisis yang dilakukan akan mengantar kita pada sebuah pemahaman yang benar dari setiap persoalan y ang dihadapi oleh bangsa. Melalui Pengetahuan dan kecerdasanlah maka masyarakat kita bisa berkembang. Dua prasyarat inilah yang dapat mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan.
Sejarah perbudakan telah lama selesai akan tetapi ditengah tengah kita pemerasan masih terus berlangsung, manusia dijadikan sebagai kuda tunggangan untuk kesuksesan materil dari segelintir orang. Untuk sekedar mencari makan banyak saudara-saudara kita yang harus membanting tulang dan harus meninggalkan keluarganya dengan merantau jauh, padahal tanah kita yang subur dengan hasil alam yang kaya tak bisa mengantarkan kesejahteraan bagi rakyat kita. Apa yang salah dengan kita?.
Korupsi dan kolusi akhirnya menjadi hal biasa bahkan dihalalkan oleh sekelompok orang yang hari ini dipercaya oleh rakyat untuk berkuasa. Mandat rakyat dikhianati oleh kepentingan kelompok atau golongan.
Rakyat kita tidak menjadi cerdas, Mengorganisir diri adalah hal yang penting untuk dilakukan, menjadi Organizer adalah kerja-kerja para pewaris kenabian.Kerja-kerja nyata yang bernafas pada kemanusian, pembebasan manusia dari keterbatasan dan ekploitasi manusia terhadap manusia lainnya.
CINTAMU
Cintamu adalah pelabuhan bagiku,
tempatku menyimpan penat dari segala kesibukan.
Cintamu adalah dermaga,
bagiku tempat kusandarkan lelah yang kubawa.
Mimpimu adalah obsesi
yang mengawal kehidupanku dalam riak gelombang.
Cintamu telah menuntunku menjadi nahkoda.
Pada kepala dan hatiku yang tersisa separuh.
Kupatri cinta Datu Museng kepada Maipa Diapati
lalu…
Kau sibak selubung cahaya.
Tenggelamlah aku di palung hatimu.
AM
25 Juli 2007 0:41
Sunyi menggugat senja di pesisir pantai
berhadapan cakrawala
Membenam ke dalam lekuk gelombang
Memahat makin sunyi paling dalam
Hanya buih dan angin
Mengoyak batin merindu
Kabut mengambang dalam keremangan senja
Senja ketika dirimu tinggalkan aku menjauh
21.07.2007
Langganan:
Postingan (Atom)
